thumbnail

Atasi Jerawat dengan Makanan Alami dan Air Putih

Posted by dk on Tuesday, October 26, 2010

Herbavi-lemon-atasi-jerawat 

Ada beberapa makanan yang dapat memerangi jerawat. Makanan dengan kandungan beta karoten yang tinggi sangat efektif untuk mengatasi jerawat. Tambah porsi sayuran dalam makanan dan perbanyak konsumsi buah-buahan.
Lemon atasi Jerawat
Jus lemon juga merupakan minuman yang sangat penting. Ambil 2 buah jeruk lemon segar, peras dalam sebuah gelas dan minum tiap pagi hari dan malam sebelum tidur.
Usahakan 1 minggu sekali, oleskan perasan jeruk lemon ke wajah secara merata dengan kapas. Tunggu sampai kering (kalau tipe kulit kamu sensitif, sebaiknya air perasan jeruknya dicampur dengan sedikit air sebelum dioleskan ke wajah). Disarankan untuk menggunakan jeruk lemon yang masih segar.
Air putih atasi jerawat
Air putih juga sangat membantu dalam mengatasi jerawat. Minum 9 gelas air dalam sehari. 3 gelas masing-masing di pagi, siang, dan malam hari.
Makanan alami lainnya tuk atasi jerawat
Makanan lainnya yang dapat menghilangkan jerawat yaitu sayuran hijau dan orange (wortel), strawberry, bawang putih, minyak kelapa dan cuka apel.
Dunia Komputer
Blog Dunia Komputer Updated at: October 26, 2010
thumbnail

Cara Mengetahui Tanda-tanda Kanker pada Diri Anda

Posted by dk on

Membicarakan soal kanker tentu yang terpikirkan oleh kita adalah betapa mengerikannya penyakit ini. Penyakit yang belum ditemukan pengobatan secara mujarab ini sudah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi sebagian orang. Kanker merupakan penyakit pembunuh nomor wahid diantara penyakit non infeksi yang lain, sehingga bila seseorang telah terdiagnosa menderita kanker maka kematianlah yang akan menghantuinya.

 

Sesungguhnya kanker bukanlah suatu penyakit yang sama sekali tidak bisa disembuhkan. Bila terdeteksi dengan cepat/dini dan diobati dengan tepat maka kanker bisa disembuhkan dengan sempurna. Sayangnya untuk mendeteksi kanker stadium dini tidaklah semudah membalikan telapak tangan karena tidak semua kanker memberikan gejala yang unik pada diri pasien sehingga mendorong pasien untuk berobat. Selain memang biaya deteksi dini/screening ini tidaklah bisa dibilang murah.
Namun tidak perlu khawatir, sebuah penilitian di Eropa sudah meneliti sejumlah tanda awal yang bisa dijadikan pegangan untuk deteksi dini terjadinya kanker. Walau tidak memberikan hasil 100%, tapi penelitian ini minimal membuka mata kita untuk segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut bila ditemukan gejala berikut.

Hematuri (Kencing Darah)
Hematuri atau kencing darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu dalam urine/kencing baik yang bisa diamati dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Sensitivitas dari gejala ini adalah 59% pada laki laki dan 52% pada wanita artinya 59% dari laki laki yang menderita gejala ini akan menderita kanker, sedangkan untuk wanita sebesar 52%.

Hemoptysis (Batuk Darah)
Hemoptysis atau batuk darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu melalui saluran nafas baik yang bisa diamati langsung dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Angka sensitivitasnya cukup rendah yaitu hanya 22% untuk laki laki dan 14% untuk perempuan. Gejala ini biasanya timbul pada kanker kanker yang menyerang saluran nafas baik saluran nafas bagian atas maupun bawah.

Dyspaghia (Gangguan Menelan)
Dyspaghia atau gangguan menelan biasanya terjadi pada kanker kanker yang menyerang saluran pencernaan bagian atas. Nilai sensitivitasnya pun cukup tinggi yaitu 58% dari gejala ini kemungkinan akan menderita kanker pada laki laki dan 54% pada wanita.

Rectal Bleeding (Berak Darah)
Rectal Bleeding atau berak darah adalah keluarnya darah dengan konsentrasi tertentu melalui saluran kotoran/anus yang bisa diamati langsung dengan mata telanjang atau dengan bantuan mikroskopis. Jenis kanker yang biasa menimbulkan gejala awal seperti ini adalah kanker pada usus besar. Sensitivitas dari gejala ini untuk terjadinya kanker berkisar di angka 33% untuk laki laki dan 25 % untuk perempuan.
Demikianlah tanda tanda awal kanker yang perlu kita waspadai sehingga penanganan kanker bisa lebih cepat dan tepat. Penelitian yang saya sebutkan diatas bersumber dari : Alarm signal in early diagnosis of cancer in primary care: cohort study using General Practice Research Database. R. Jones, R. Latinovic, J. Charlton, MC. Gulliford, BMJ, 2007, vol. 334, pp. 1040–1044
Dunia Komputer
Blog Dunia Komputer Updated at: October 26, 2010
thumbnail

Madu dan Jeruk Nipis, Resep Herbal Atasi Jerawat

Posted by dk on

Jerawat adalah kondisi kulit yang abnormal dikarenakan gangguan produksi dari kelenjar minyak (sebaceous gland) yang berlebihan. Kelebihan produksi kelenjar minyak ini atau sebaceous gland akan menyebabkan penyumbatan pada saluran folikel rambut dan pada pori-pori kulit. Seringkali Jerawat akan menyebabkan peradangan pada kulit (kulit membengkak dan menjadi kemerah merahan). Peradangan pada kulit ini disebabkan oleh berlebihnya produksi kelenjar minyak kulit atau sebum yang kemudian menyumbat saluran kelenjar dan membentuk komedo (whiteheads) dan seborhoea. Ada beberapa penyebab jerawat diantaranya: faktor genetik atau faktor keturunan, aktivitas hormonal, kelenjar minyak yang terlalu aktif  dan menumpuknya sel kulit mati. Jerawat yang tumbuh di wajah seringkali mengganggu kita dan mungkin dapat menurunkan rasa percaya diri kita. Menggunakan obat jerawat kadang-kadang belum tentu cocok dan hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Untuk pergi ke dokter, selain kita harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit juga biasanya resepnya bersumber dari zat-zat kimia (non alami).
Resep Herbal atasi JerawatTidak ada salahnya, Anda mencoba menggunakan bahan-bahan alami untuk mengatasi jerawat di wajah dengan mengeliminir penyebab-penyebab munculnya jerawat. Misalnya, dengan menggunakan masker madu dan jeruk nipis. Dalam madu, terdapat kandungan zat antiseptik yang berguna untuk membunuh bakteri yang ada pada wajah yang dapat menyebabkan jerawat semakin meradang. Sedangkan, air jeruk nipis dapat mengurangi minyak pada wajah sehingga dapat mencegah kotoran menempel di wajah.
Berikut langkah-langkah untuk membuat masker dari jeruk nipis:
  • Ambil jeruk nipis dan peras airnya sebanyak 1 sendok teh.
  • Campur air jeruk nipis tadi dengan 1 sendok teh madu.
  • Oleskan pada wajah dan diamkan selama 30 menit.
  • Bilas dengan menggunakan air dingin.
Lakukan secara teratur, insyaAllah jerawat dapat pergi dari wajah Anda.
Dunia Komputer
Blog Dunia Komputer Updated at: October 26, 2010
thumbnail

15 Resep Pengobatan dengan Madu

Posted by dk on Wednesday, July 21, 2010

1. MAAG
Pagi bangun tidur campurkan 2 sdm madu dengan ¾ air hangat , aduk dan minum. Dan beberapa saat sebelum tidur, minumlah kembali madu dan air hangat.
2. SESAK NAFAS
Sejumput jinten hitam (habbatussauda) ditumbuk halus, seduh dengan air, panas ¾ gelas, Setelah hangat disaring, Campurkan 2 sdm madu, minum 2 kali sehari.
3. TEKANAN DARAH TINGGI
1 buah mengkudu bersihkan kulit dan bijinyaa, Daging buah ditambah 1 gelas , 2 sdm madu, separuh jeruk nipis di buat jus. Bagi 2 untuk pagi dan malam
Resep ini juga bermanfaat bagi penyakit jantung, diabetes, kelelahan, ganguan pencernaan dan mencegah pikun.
4. LUKA BAKAR
Madu dicampur dengan Vaseline dalam takaran yang sama, oleskan pada luka bakar tersebut, setiap pagi dan sore, sampai kulit yang terbakar mengelupas, InsyaAllah kulit anda seolah-olah tidak terbakar sama sekali.
5. SEMBELIT
Minum segelas susu dingin yang dicampur dengan sesendok madu setiap pagi dan sore. Ini akan melunakkan kotoran dan membersihkan usus dengan sebersih- bersihnya.
6. TONIKUM
Merangsang ingatan, nafsu makan, dan menambah berat tubuh.
Ambil daging mangga yang masak, lembutkan seperti di jus, dan tambahkan air hingga ¾ gelas ditamabah 1 ½ sdm madu dan susu secukupnya. Usahakan minum 2 kali sehari.
7. MENGATASI SAKIT PINGGANG
30 gr daun Kucai dan 25 gr jahe diiris-iris kemudian di jus. Tambahkan 60 cc madu lalu diminum. Konsumsilah 2 x sehari.
8. MENGUATKAN OTOT JANTUNG
1 sdm madu dilarutkan dalam sedikit air kemudian dicampur dengan kulit delima yang direbusdengan api kecil dantidak sampai mendidih.
9. UNTUK KEKUATAN SEKSUAL
3 siung bawang merah ditumbuk dan diperas dengan baik, kemudian ambil sarinya. Campurkan madu dengan takaran yang seimban, lalu panaskan dengan api yang tidak terlalu panaa sambil diaduk hingga hilang busa madunya. Minumlah ramuan ini 1 sdm sesudah makan siang setiap hari. Dan bila ditambah dengan jinten hitam (habatussauda) maka akan lebih menguatkan.
Atau ramuan lainnya : 2 sdm madu + kuning telur ayam kampung + ½ sdk teh bubuk merica, aduk semuanya (bisa ditambah sedikit air hangat. Diminum setidaknya 2 kali dalam sepekan.
10 MENGHILANGKAN AKIBAT BURUK GAIRAH SEKS YANG BERLEBIHAN
Minumlah air kelapa segar ditambahkan dengan sedikit madu cara ini dapat menghilangkan permasalahan di atas
11. MAKANAN YANG BAIK BAGI BAYI
Pisang ambon yang dicampur dengan madu dan susu merupakan makanan terbaik bagi bayi.
12. MENANGGULANGI MUAL-MUAL PADA WANITA HAMIL, GANGGUAN EMPEDU, RADANG LAMBUNG, KENCING TIDAK LANCAR DAN TUBUH LETIH SERTA LESU.
1 Gelas penuh sari wortel dicampur dengan 1 sdm madu 1 sdt sari jeruk nipis, dikonsumsi sebelum sarapan pagi.
13. TONER KULIT ( MENGENCANGKAN, MELEMBUTKAN DAN MELEMBABKAN KULIT )
1 buah kulit jeruk ditambah 1 sdm madu kemudian diblender dengan halus. Gosokkan perlahan campuran madu tersebut ke wajah dan biarkan hingga 15 menit lalu basuhlah wajah anda dengan air hangat untuk membersihkan ramuan tersebut.
14. PEMBERSIH WAJAH SETIAP HARI
Campurkan 1 sdm madu dengan sedikit susu bubuk ditelapak tangan. Oleskan di wajah untuk membersihkan semua kotoran dan make-up. Lalu basuh hingga bersih dengan air hangat.
15. CONDITIONER RAMBUT (kesehatan rambut dan kulit kepala)
Campur ½ cangkir madu dan 1 sdm minyak zaitun. Oleskan ke rambut dan kulit kepala,lalu ambil penutup rambut dan biarkan hingga 30 menit dalamkeadaan tertutup. Setelah 30menit,keramasi dengan shampoo dan bilas rambut anda seperti biasa.
Dunia Komputer
Blog Dunia Komputer Updated at: July 21, 2010
thumbnail

Cara Pengobatan dengan MADU

Posted by dk on

Madu tidaklah mendapat perhatian dari para peneliti Barat selama beberapa dekade lalu, seperti perhatian yang didapatnya selama dua tahun terakhir. Berpuluh-puluh kajian ilmiah dalam dua tahun terakhir telah dipublikasikan, nyaris setiap minggu selalu ada satu kajian ilmiah yang mantap mengenai madu yang dipublikasikan di majalah-majalah internasional yang kredibel.
Anjuran Berobat dengan Madu
Alloh Ta’ala berfirman :
“Robbmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah rumah-rumah di gunung-gunung, pohon-pohon, dan pada tempat-tempat yang dibikin oleh manusia. Kemudian makanlah setiap buah-buahan dan tempuhlah jalan Robbmu dengan mudah’; dari perut lebah itu keluar cairan dengan berbagai warna, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia. Sungguh dalam yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan (Alloh) bagi kaum yang berpikir.” (An-Nahl [16] : 68-69)
Dalam Sunnah Nabi terdapat beberapa hadits yang diriwa-yatkan, menyebutkan tentang manfaat-manfaat madu serta menjelaskan pentingnya madu dalam penyembuhan. Diriwayat-kan dari Ibnu ‘Abbâs ra, ia berkata : Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Kesembuhan terdapat dalam tiga hal, yakni minuman madu, sayatan alat bekam, dan sundutan api. Aku melarang umatku berobat dengan sundutan api.”366)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda, “Jika di sebagian obat-obatan yang kalian gunakan terdapat kebaikan, maka itu terdapat dalam minuman madu, sayatan alat bekam, atau sundutan dengan api, tetapi aku tidak suka berobat dengan sundutan api.”367)
Rahasia Kehebatan Madu yang Terungkap oleh Kedokteran Modern
Manusia telah menggunakan madu untuk pengobatan, sejak zaman kuno. Salah satu mitos yang populer di masyarakat adalah bahwa para peternak lebah bisa hidup secara sehat dan berusia panjang, melebihi yang lain.
Para ahli sejarah menyebutkan bahwa Phytagoras hidup dalam usia lebih dari sembilan puluh tahun. Makanan pokoknya sehari-hari terdiri dari roti dan madu.Diskusi tentang madu mendapat banyak perhatian dalam artikel-artikel yang dipublikasikan selama beberapa tahun bela-kangan ini di majalah-majalah kedokteran yang terpercaya, penulis akan mengutip sebagiannya sebagai berikut :
1. Bakteri Tidak Mampu Melawan Madu
Demikian judul sebuah artikel yang dipublikasikan di Majalah Dis Lancet Infect, bulan Februari 2003 M. Dalam artikel ini, Dr. Dixon menegaskan adanya kekuatan besar di dalam madu yang mampu mengalahkan bakteri, di mana bakteri-bekteri itu tidak mampu bertahan di hadapan madu. Penulis menganjurkan untuk menggunakan madu dalam mengobati berbagai jenis luka, termasuk luka bakar.
Berbagai riset ilmiah menunjukkan bahwa karakteristik fisikawi dan kimiawi madu, misalnya tingkat keasaman dan pengaruh osmoticnya, yang berperan dalam efektivitasnya membunuh bakteri. Di samping itu, madu memiliki spesifikasi anti proses peradangan (inflammatory activity anti).
Hasil terakhir adalah bahwa madu melawan pembusukan oleh bakteri dan mempercepat pulihnya luka-luka, luka bakar, dan borok.
2. Penggunaan Madu Sebagai Antiluka
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam Majalah Ann Plast Surg, bulan Februari 2003 M, dilakukan penelitian terhadap 60 pasien berkebangsaan Belanda yang terkena luka dalam, yang bermacam-macam, meliputi luka-luka menahun (21 pasien), luka-luka kompleks (23 pasien), dan luka-luka memar yang parah (16 pasien).
Para peneliti menyatakan bahwa penggunaan madu mudah dilakukan bagi semua pasien, kecuali satu orang, membantu pembersihan luka, dan tidak terjadi efek samping apa pun dari penggunaan madu dalam pengobatan luka-luka tersebut.
Para peneliti menyarankan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan dalam Majalah Arch Surgery tahun 2000 M digunakannya madu untuk melindungi garis tepi luka-luka yang terjadi selama proses operasi pengangkatan tumor.
3. Madu dan Luka Bakar
Dalam rubrik “Luka Bakar” majalah Durns tahun 1996 M, telah dipublikasikan sebuah artikel tentang penggunaan madu untuk pengobatan luka bakar. Artikel tersebut menganjurkan penggunaan madu untuk luka bakar.
4. Madu Kaya Kandungan Antioksidan
Dalam studi yang dipublikasikan pada bulan Maret 2003 M di Majalah Agric Food Chem, para peneliti membandingkan antara pengaruh konsumsi minuman jagung atau madu dengan takaran 1,5 gr/kg berat badan terhadap efektivitas antioksidan. Kandungan plasma antioksidan fenolic telah bertambah dengan persentasi lebih tinggi setelah mengkon-sumsi minuman madu daripada setelah mengkonsumsi minuman jagung. Penelitian tersebut mengindikasikan bahwa antioksidan fenolic yang ada di dalam madu memiliki daya aktif tinggi serta bisa meningkatkan perlawanan tubuh terhadap tekanan oksidasi (oxidative stress).
5. Madu dan Kesehatan Mulut
Profesor Amoln menegaskan dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Majalah Dentgen pada bulan Desember 2001 M, bahwa madu bisa memainkan peran penting dalam pengobatan penyakit-penyakit gusi, sariawan, dan berbagai gangguan mulut lainnya, hal itu disebabkan madu memiliki spesifikasi anti bakteri.
6. Madu dan Pengobatan Infeksi Selaput Lendir Akibat Radiasi
Dalam sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Majalah Support Care Cancer, pada bulan April 2003 M, telah dilakukan terhadap empat puluh pasien yang mengidap kanker di kepala dan leher dan mereka itu membutuhkan penyinaran (radio therapy).
Para peneliti berkesimpulan bahwa pemberian madu secara lokal pada saat dilakukannya radioterapi merupakan metode terapi yang efektif, serta tidak memberatkan untuk men-cegah terjadinya infeksi selaput lendir di mulut.
7. Antara Madu dengan Infeksi Lambung (Maagh) dan Tukak Lambung
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Majalah Pharmacolres tahun 2001 M, para peneliti menyatakan bahwa madu bisa membantu pengobatan infeksi lambung. Para peneliti juga melakukan penelitian lain tentang pengaruh madu alami terhadap bakteri yang terbukti bisa menyebab-kan terjadinya tukak lambung atau infeksi lambung, yang dikenal dengan sebutan bakteri pylori. Diperoleh kejelasan bahwa pemberian cairan madu dengan konsentrasi 20 % bisa melemahkan bakteri tersebut di piring percobaan. Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Majalah Tropgastroent tahun 1991M.
8. Madu Mencegah Terjadinya Radang Usus Besar (Colitis)
Bisakah madu mencegah terjadinya radang usus besar pada tikus? Itulah pertanyaan yang dilontarkan oleh para peneliti di Universitas Raja Saud di Kerajaan Saudi Arabia. Pertama-tama mereka menciptakan terjadinya infeksi colon pada tikut-tikus percobaan tersebut dengan melukai tikus-tikus itu dengan acetic acid, setelah tikus-tikus itu diberi madu, glukosa, dan fruktosa melalui mulut dan anus selama empat hari. Para peneliti berhasil mengetahui bahwa madu bisa berperan baik dalam melindungi colon dari luka-luka yang biasa ditimbulkan oleh asam asetat.
Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada orang yang datang kepada beliau, melaporkan bahwa saudaranya mengeluh sakit perut. Maka, beliau bersabda, “Minumkan madu kepada-nya…”.368)
9. Madu dan Kulit Kepala
Karena madu berkhasiat membunuh bakteri, sekaligus ber-fungsi sebagai anti jamur dan antioksidan, serta memiliki kandungan gizi yang tinggi, maka seorang peneliti bernama Dr. Wailial telah melakukan sebuah penelitian untuk mengetahui pengaruh madu dalam mengobati dermatitis (infeksi kulit) karena minyak dan ketombe.
Hasil-hasil penelitiannya dipublikasikan dalam majalah Eurjmealres pada tahun 2001 M. Ia telah mempelajari 31 pasien yang terkena infeksi kulit karena minyak yang kronis, yang mengenai kulit kepala, wajah, dan bagian depan dada. Mereka itu terdiri dari dua puluh orang pria dan sepuluh orang wanita, usia mereka berkisar antara 15-60 tahun.
Penyakit-penyakit kulit yang ada pada mereka menimbulkan sisik-sisik putih di atas permukaan kulit yang kemerah-merahan. Para pasien diminta memakai cairan madu dengan konsentrasi 90 % (madu yang dicampur air hangat) dua hari sekali di bagian-bagian yang terinfeksi di kepala dan wajah sambil diurut-urut pelan terus-menerus selama 2-3 menit.
Madu tersebut dibiarkan selama kurang lebih tiga jam sebelum dicuci dengan air hangat. Para peneliti terus memonitor kondisi para pasien setiap hari, khususnya terkait dengan keluhan gatal, ketombe, dan rambut rontok.
Terapi ini dilakukan selama empat pekan, ternyata masing-masing pasien merespon baik sekali terapi ini. Gatal dan ketombe mereka hilang selama satu minggu, sedangkan penyakit-penyakit kulit sembuh dalam jangka waktu dua minggu.369)
Benarlah firman Alloh Ta’ala, “Dari perut lebah itu keluar minuman yang beraneka ragam warnanya, di dalamnya terdapat kesembuhan bagi manusia.” (An-Nahl [16] : 69)10. Madu dan Pengobatan Kencing Manis370)
Madu bisa menurunkan kadar gula di dalam darah para pengidap penyakit diabetes. Bukti-bukti menguatkan bahwa di dalam madu terdapat unsur oksidan yang menjadikan asimilasi gula lebih mudah di dalam darah, sehingga kadar gula tersebut tidak terlihat tinggi.371)
Madu merupakan nutrisi kaya vitamin B1-B5-C, di mana para pengidap diabetes sangat membutuhkan vitamin-vitamin ini. Madu mengandung sekitar seratus unsur yang berbeda-beda yang tergolong sangat penting bagi tubuh manusia, khususnya bagi para pengidap diabetes.372)
Manfaat madu ini bisa dipastikan bila penyebab kencing manis bukanlah tidak adanya insulin sama sekali, melainkan sulitnya menstimulasi sel-sel yang memproduksi insulin di dalam darah. Dalam kondisi seperti ini, sesendok kecil madu373) akan menambah cepat dan besar kandungan gula dalam darah, sehingga akan menstimulasi sel-sel pankreas untuk memproduksi insulin. Tapi, pengidap kencing manis harus melakukan analisis darah sebelum dan sesudah meminum madu, untuk menentukan takaran yang diboleh-kan untuknya di bawah pengawasan dokter.
___________________________________
366) Shohîhu `l-Bukhôrî (5680).
367) Shohîhu `l-Bukhôrî (5702).
368) Muttafaqun ‘alaih : Bukhôrî (5684) dan Muslim (2217).
369) Artikel Asrôru `l-‘Asal Tatajallâ fi `th-Thibbi `l-Hadîts, Dr. Hassân Syamsu Bâsyâ, Hai’atu `l-I‘jâzi `l-‘Ilmî fi `l-Qur’ân wa `s-Sunnah, edisi kelima belas, 1424 H.
370)At-Tadâwî bi ‘Asali `n-Nahl, ‘Abdul Lathîf ‘Ø¢syûr, hal. 94.
371) Buku Syafâkallôhu wa ‘Ø¢fâka, ‘Alî Rôwî.
372)Ath-Thibbu wa `n-Nahl, Dr. Na‘ûm Pitrovitsm, diterjemahkan oleh Dr. Ibrôhîm Manshûr Syâmî, hal. 90.
373)Harap diperhatikan supaya madu yang diminum benar-benar alami, tanpa campuran makanan lebah yang disediakan oleh para peternak madu, misalnya gula dan jeruk yang biasa mereka sediakan untuk makanan lebah.

Sumber: http://www.thibbun-nabawi.com/kesehatan/pengobatan-dengan-madu-2.html
Dunia Komputer
Blog Dunia Komputer Updated at: July 21, 2010
thumbnail

Manfaat Coklat bagi Kesehatan

Posted by dk on

Kata coklat berasal dari xocoatl (bahasa suku Aztec) yang berarti minuman pahit. Suku Aztec dan Maya di Mexico percaya bahwa Dewa Pertanian telah mengirimkan coklat yang berasal dari surga kepada mereka. Cortes kemudian membawanya ke Spanyol antara tahun 1502-1528, dan oleh orang-orang Spanyol minuman pahit tersebut dicampur gula sehingga rasanya lebih enak. Coklat kemudian menyebar ke Perancis, Belanda dan Inggris. Pada tahun 1765 didirikan pabrik coklat di Massachusetts, Amerika Serikat.

Dalam perkembangannya coklat tidak hanya menjadi minuman tetapi juga menjadi snack yang disukai anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Selain rasanya enak, coklat ternyata berkhasiat membuat umur seseorang menjadi lebih panjang. Suatu studi epidemiologis telah dilakukan pada mahasiswa Universitas Harvard yang terdaftar antara tahun 1916-1950. Dengan menggunakan food frequency questionnaire berhasil dikumpulkan informasi tentang kebiasaan makan permen atau coklat pada mahasiswa Universitas Harvard.

Dengan mengontrol aktivitas fisik yang dilakukan, kebiasaan merokok, dan kebiasaan makan ditemukan bahwa mereka yang suka makan permen/coklat umurnya lebih lama satu tahun dibandingkan bukan pemakan. Diduga antioksidan fenol yang terkandung dalam coklat adalah penyebab mengapa mereka bisa berusia lebih panjang. Fenol ini juga banyak ditemukan pada anggur merah yang sudah sangat dikenal sebagai minuman yang baik untuk kesehatan jantung. Coklat mempunyai kemampuan untuk menghambat oksidasi kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, sehingga dapat mencegah risiko penyakit jantung koroner dan kanker.

Selama ini ada pandangan bahwa permen coklat menyebabkan caries pada gigi dan mungkin juga bertanggung jawab terhadap munculnya masalah kegemukan. Tak dapat disangkal lagi bahwa kegemukan adalah salah satu faktor risiko berbagai penyakit degeneratif. Tetapi studi di Universitas Harvard ini menunjukkan bahwa jika Anda mengimbangi konsumsi permen coklat dengan aktivitas fisik yang cukup dan makan dengan menu seimbang, maka dampak negatip permen coklat tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Menurut kepercayaan suku Maya, coklat adalah makanan para dewa. Rasa asli biji coklat sebenarnya pahit akibat kandungan alkaloid, tetapi setelah melalui rekayasa proses dapat dihasilkan coklat sebagai makanan yang disukai oleh siapapun. Biji coklat mengandung lemak 31%, karbohidrat 14% dan protein 9%. Protein coklat kaya akan asam amino triptofan, fenilalanin, dan tyrosin. Meski coklat mengandung lemak tinggi namun relatif tidak mudah tengik karena coklat juga mengandung polifenol (6%) yang berfungsi sebagai antioksidan pencegah ketengikan.

Di Amerika Serikat konsumsi coklat hanya memberikan kontribusi 1% terhadap intake lemak total sebagaimana dinyatakan oleh National Food Consumption Survey (1987-1998). Jumlah ini relatif sedikit khususnya bila dibandingkan dengan kontribusi daging (30%), serealia (22%), dan susu (20%). Lemak pada coklat, sering disebut cocoa butter, sebagian besar tersusun dari lemak jenuh (60%) khususnya stearat. Tetapi lemak coklat adalah lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Untuk tetap menekan lemak jenuh agar tidak terlalu tinggi, ada baiknya membatasi memakan cokelat hanya satu batang saja per hari dan mebatasi mengkonsumsi suplement atau makanan lainnya yang mengandung catechin seperti apple dan teh.

Dalam penelitian yang melibatkan subyek manusia, ditemukan bahwa konsumsi lemak coklat menghasilkan kolesterol total dan kolesterol LDL yang lebih rendah dibandingkan konsumsi mentega ataupun lemak sapi. Jadi meski sama-sama mengandung lemak jenuh tetapi ternyata efek kolesterol yang dihasilkan berbeda. Kandungan stearat yang tinggi pada coklat disinyalir menjadi penyebab mengapa lemak coklat tidak sejahat lemak hewan. Telah sejak lama diketahui bahwa stearat adalah asam lemak netral yang tidak akan memicu kolesterol darah. Mengapa? Stearat ternyata dicerna secara lambat oleh tubuh kita dan juga diabsorpsi lebih sedikit.

Sepertiga lemak yang terdapat dalam coklat adalah asam oleat yaitu asam lemak tak jenuh. Asam oleat ini juga dominan ditemukan pada minyak zaitun. Studi epidemiologis pada penduduk Mediterania yang banyak mengkonsumsi asam oleat dari minyak zaitun menyimpulkan efek positip oleat bagi kesehatan jantung.

Sering timbul pertanyaan seberapa banyak kita boleh mengkonsusmi coklat? Tidak ada anjuran gizi yang pasti untuk ini, namun demikian makan coklat 2-3 kali seminggu atau minum susu coklat tiap hari kiranya masih dapat diterima. Prinsip gizi sebenarnya mudah yaitu makanlah segala jenis makanan secara moderat. Masalah gizi umumnya timbul bila kita makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.

Makan coklat tidak akan menimbulkan kecanduan, tetapi bagi sebagian orang rasa coklat yang enak mungkin menyebabkan kerinduan untuk mengkonsumsinya kembali. Ini yang disebut chocolate craving. Dampak coklat terhadap perilaku dan suasana hati (mood) terkait erat dengan chocolate craving. Rindu coklat bisa karena aromanya, teksturnya, manis-pahitnya dsb. Hal ini juga sering dikaitkan dengan kandungan phenylethylamine yang adalah suatu substansi mirip amphetanine yang dapat meningkatkan serapan triptofan ke dalam otak yang kemudian pada gilirannya menghasilkan dopamine. Dampak dopamine adalah muncul perasaan senang dan perbaikan suasana hati. Phenylethylamine juga dianggap mempunyai khasiat aphrodisiac yang memunculkan perasaan seperti orang sedang jatuh cinta (hati berbunga). Konon Raja Montezuma di jaman dahulu selalu mabuk minuman coklat sebelum menggilir harem-haremnya yang berbeda setiap malam.

Katekin adalah antioksidan kuat yang terkandung dalam coklat. Salah satu fungsi antioksidan adalah mencegah penuaan dini yang bisa terjadi karena polusi ataupun radiasi. Katekin juga dijumpai pada teh meski jumlahnya tidak setinggi pada coklat. Orang tua jaman dahulu sering mempraktekkan cuci muka dengan air teh karena dapat membuat kulit muka bercahaya dan awet muda. Seandainya mereka tahu bahwa coklat mengandung katekin lebih tinggi daripada teh, mungkin mereka akan menganjurkan mandi lulur dengan coklat.

Coklat juga mengandung theobromine dan kafein. Kedua substansi ini telah dikenal memberikan efek terjaga bagi yang mengkonsumsinya. Oleh karena itu ketika kita terkantuk-kantuk di bandara atau menunggu antrian panjang, makan coklat cukup manjur untuk membuat kita bergairah kembali.

Produk coklat cukup beraneka ragam. Misalnya, ada coklat susu yang merupakan adonan coklat manis, cocoa butter, gula dan susu. Selain itu ada pula coklat pahit yang merupakan coklat alami dan mengandung 43% padatan coklat. Coklat jenis ini bisa ditemukan pada beberapa produk coklat batangan. Kandungan gizi coklat bisa dilihat pada tabel.

Zat GiziCoklat SusuCoklat Pahit
Energi (Kal)381504
Protein (g)95,5
Lemak (g)35,952,9
Kalsium (mg)20098
Fosfor (mg)200446
Vit A (SI)3060


Belum ada bukti bahwa coklat menimbulkan jerawat. Coklat juga tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama munculnya plaque gigi karena plaque gigi juga bisa timbul pada orang yang mengkonsumsi makanan biasa sehari-hari. Hanya saja coklat perlu diwaspadai, khususnya bagi orang-orang yang rentan menderita batu ginjal. Konsumsi 100 g coklat akan meningkatkan ekskresi oksalat dan kalsium tiga kali lipat. Oleh karena itu kiat sehat yang bisa dianjurkan adalah minumlah banyak air sehabis makan coklat.
Dunia Komputer
Blog Dunia Komputer Updated at: July 21, 2010
thumbnail

KULIT UDANG SEBAGAI PENGGANTI FORMALIN

Posted by dk on Monday, July 19, 2010

SOSIALISASI PEMANFAATAN KULIT UDANG
SEBAGAI PENGGANTI FORMALIN


Uliyatid, Mahruroh, Siti Maslifatul

Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang
 Jl. Surabaya No. 6 Malang

Abstrak: Penyalahgunaan formalin meresahkan masyarakat, padahal telah ditemukan beberapa pengawet alternatif, salah satunya kitosan hasil penemuan Sugeng Heri Suseno. Sayangnya kitosan belum dikenal oleh masyarakat, sehingga dibutuhkan sosialisasi untuk mengenalkannya. Sosialisasi dilakukan untuk mengenalkan kelebihan kitosan sebagai pengawet yang mudah dibuat dan baik bagi kesehatan. Selain itu, masyarakat sasaran diharapkan terampil memanfaatkan kulit udang menjadi kitosan. Metode pendekatan yang digunakan yaitu observasi, persiapan, dan pelaksanaan sosialisasi. Pelaksanaan sosialisasi dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi. Hasil sosialisasi masyarakat mampu mengolah kulit udang sebagai pengawet. Evaluasi program dilakukan dengan kegiatan pendampingan dan tindak lanjut program dilakukan kerjasama dengan PPI serta pihak-pihak terkait.

Kata kunci: Formalin, Kitosan, Kulit Udang, Sosialisasi, Masyarakat




Saat ini masyarakat diresahkan dengan penggunaan formalin sebagai pengawet. Terjadinya kasus formalin telah menimbulkan banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat kalangan ekonomi menegah khususnya pedagang yang diduga telah menggunakan formalin pada barang dagangannya. Penyalahgunaan tersebut membuat masyarakat resah dan memaksa pemerintah untuk segera menyelesaikannya.
Di tengah keresahan masyarakat ini seorang peneliti dari IPB, Sugeng Heri Suseno, menemukan pengawet alternatif dari olahan kulit udang berupa kitosan. Kitosan dibuat dengan cara pencucian, demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi kitin. Kualitas dan nilai ekonomi kitosan dan kitin ditentukan oleh besarnya derajat deasetilasi, semakin tinggi derajat deasetilasi semakin tinggi kualitas dan harga jualnya. Kitosan saat ini telah dimanfaatkan dalam beberapa bidang, misalnya kedokteran, kesehatan, tekstil, industri farmasi, pangan, pengolahan limbah, dan kosmetik.
Penemuan kitosan sebagai pengawet alternatif pengganti formalin oleh dosen IPB ini belum dikenal oleh masyarakat umum sehingga dibutuhkan suatu upaya untuk mengenalkannya. Melalui program ini masyarakat akan mengetahui adanya kitosan sebagai pengganti formalin. Sehingga selain untuk mengembangkan potensi perikanan dan kelautan, pemanfaatan kitosan sebagai alternatif pengganti formalin pada produk perikanan juga dapat sebagai salah satu penyelesaian masalah kasus penyalahgunaan formalin.
Kulit udang sebagai bahan pembuatan kitosan mudah didapatkan di Indonesia. Indonesia mempunyai kekayaan laut yang berpotensi besar tetapi belum dimanfaatkan dengan optimal, salah satunya kulit udang. Menurut Anonim (2006), hasil survei Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) menunjukkan bahwa untuk daerah Jabotabek dapat tersedia sekitar 100 ton kulit udang kering setiap bulannya atau setara 1 ton kitin. Apabila ini dikonversikan ke dalam nilai uang, maka akan diperoleh devisa sebesar US$ 65 ribu per bulan atau US$ 780 per tahun.
Kasus penyalahgunaan formalin oleh masyarakat merupakan faktor terpenting diadakannya program sosialisasi pemanfaatan kulit udang sebagai bahan pengganti formalin berupa kitosan. Masyarakat yang menjadi sasaran dari program ini adalah nelayan dan pedagang ikan di Desa Jatirejo Kecamatan Lekok Pasuruan. Sebagian besar masyarakat di sana bekerja sebagai nelayan dan pedagang ikan. Potensi besar yang dimiliki masyarakat di sana sebenarnya bisa dikembangkan secara maksimal sehingga mampu menunjang kesejahteraan ekonomi penduduk.
Hasil penangkapan ikan selama ini dikirim sampai ke luar daerah Pasuruan seperti Yogyakarta, Bali bahkan sampai ke luar negeri yang bila disimpan terlalu lama akan membusuk. Akibatnya ikan hasil tangkapan perlu diawetkan. Saat ini pengawetan hanya terbatas pada ikan asin dengan garam sebagai zat pengawet. Beberapa pihak misalnya nelayan, pengusaha tahu, pengusaha mie menggunakan formalin sebagai zat pengawet. Padahal formalin bukan pengawet makanan dan salah satu zat karsinogenik. Karena itu, diperlukan zat pengawet yang aman, efektif dan efisien.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah yaitu cara mengenalkan kitosan sebagai bahan pengawet kepada para nelayan, cara memotivasi para nelayan agar menghindari penggunaan formalin yang sangat berbahaya, cara mengolah kulit udang secara kimia menjadi kitosan, dan menggunakan kitosan agar dapat digunakan untuk mengawetkan ikan.
Tujuan dilaksanakan program ini adalah mengetahui cara mengenalkan kitosan sebagai bahan pengawet kepada para nelayan agar masyarakat khususnya nelayan dapat memanfaatkan limbah udang berupa kulit udang agar lebih berguna dengan teknik pembuatan sederhana dan tanpa alat yang mahal dan canggih menjadi kitosan, mengetahui cara memotivasi para nelayan agar menghindari penggunaan formalin dan bersedia menggunakan kulit udang sebagai alternatif pengganti formalin berupa kitosan, dan agar masyarakat sasaran mengetahui cara mengolah kulit udang menjadi kitosan dengan proses pencucian, demineralisasi, deproteinasi, dan demineralisasi, serta masyarakat juga dapat menggunakan kitosan untuk mengawetkan ikan.
Luaran yang diharapkan dari progam ini adalah supaya masyarakat sasaran memiliki suatu ketrampilan mengembangkan IPTEK yaitu kemampuan memanfaatkan limbah kulit udang menjadi kitosan yang bermanfaat sebagai pengawet pada beberapa produk perikanan. Program ini juga berguna mengurangi keresahan di masyarakat karena bahaya penggunaan formalin oleh para pengusaha kecil. Manfaat yang diperoleh setelah dilaksanakannya progam ini yaitu masyarakat mengetahui manfaat kulit udang yang diolah menjadi kitosan sebagai bahan pengawet yang lebih aman dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan mampu membuat kitosan dengan teknik sederhana yang bila usaha ini berkembang bahkan bisa menjadi penghasilan sebagai komoditi utama daerah. Seperti yang terjadi di negara lain misalnya Jepang dan Amerika.

METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Metode pendekatan untuk melaksanakan progam ini adalah dengan melakukan observasi masyarakat sasaran selama tiga minggu. Kegiatan yang dilakukan selama observasi adalah mencari informasi mengenai keadaan dan rutinitas masyarakat sasaran melalui wawancara langsung dengan warga dan Kepala Desa Jatirejo, sekaligus meminta kerja sama dengan Kepala Desa setempat untuk membantu dalam kelancaran progam sosialisasi. Persiapan pelaksanaan program meliputi studi pustaka, pengadaan sampel kitosan, menentukan strategi yang tepat untuk menjelaskan pembuatan kitosan agar mudah dipahami masyarakat dan menunjukkan sampel kitosan kepada masyarakat sasaran, serta membuat video cara pembuatan kitosan agar masyarakat memperoleh gambaran singkat pembuatan kitosan setelah video tersebut ditayangkan pada saat sosialisasi dilaksanakan. Persiapan pelaksanaan program dilakukan selama enam minggu.
Metode yang dilakukan dalam pelaksanaan sosialisasi kitosan dan cara pembuatannya, yaitu metode ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi. Selain itu juga memotivasi masyarakat untuk menggunakan kitosan dengan cara memberitahukan kelebihan kitosan sebagai zat pengawet yang baik untuk kesehatan, menekankan cara pembuatan yang tidak memerlukan alat canggih, serta penggunaan kitosan yang mudah dan tidak memerlukan alat yang canggih. Pelaksanaan sosialisasi dilakukan selama dua minggu, kegiatan pendampingan selama satu minggu, evaluasi dan laporan akhir selama lima minggu. Kegiatan pendampingan merupakan bentuk evaluasi pelaksanaan program.
Alat dan bahan yang digunakan pada saat pengadaan sampel, pelaksanaan sosialisasi, dan pendampingan, yaitu beaker glass 3 buah, gelas ukur 2 buah, termometer 1 buah, kaki tiga 1 buah, lampu spiritus 1 buah, batang pengaduk 2 buah, kasa asbes 1 buah, labu takar 3 buah, HCl 1 M, NaOH 3,5%, NaOH 5%, kulit udang, aquades, dan spiritus. Alat dan bahan yang digunakan untuk pembuatan video, yaitu kamera digital 1 buah, dan  handycam 1 buah.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan program ini diantaranya observasi, persiapan sosialisasi, dan pelaksanaan sosialisasi. Persiapan sosialisasi meliputi studi pustaka, pembuatan sampel, dan pembuatan video cara pembuatan kitosan.
Observasi
Observasi dilakukan tiga kali pada tanggal 18 Maret, 21 Maret, dan 1 April 2007. Pada observasi tanggal 18 Maret 2007 melakukan wawancara secara langsung dengan kepala desa dan warga Desa Jatirejo. Hasil yang diperoleh dari wawancara tersebut adalah rutinitas masyarakat warga Desa Jatirejo Kecamatan Lekok Pasuruan yang sepanjang hari berada di sekitar pantai karena sebagian besar masyarakat bekerja sebagai nelayan dan pedagang ikan. Oleh karena itu, pelaksanaan sosialisasi dilakukan malam hari setelah masyarakat bekerja seharian di pantai. Hasil tangkapan warga tergolong sangat besar dan banyak dari hasil tangkapan mereka dikirim ke luar kota seperti Yogya dan Bali, bahkan ada yang dikirim ke luar negeri. Dengan demikian, masyarakat Jatirejo berpotensi untuk menjadi masyarakat sasaran pada program sosialisasi. Pertemuan dengan kepala desa menghasilkan kesepakatan yakni kepala desa bersedia membantu kelancaran program selama sosialisasi berlangsung.
Observasi kedua dilakukan untuk memastikan bentuk kerja sama dengan kepala desa setempat dan menjelaskan rencana kegiatan sosialisasi yang akan dilakukan. Observasi ketiga dilakukan untuk memastikan bentuk kegiatan dan beberapa hal yang diperlukan dalam acara tersebut. Hasil yang diperoleh dari observasi ketiga adalah tanggapan baik dari kepala desa yang diwujudkan dengan kesediaan kepala desa untuk mempublikasikan dan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan ketika sosialisasi berlangsung seperti kursi, lampu, dan sound system. Adanya perubahan masyarakat sasaran dari Desa Tambak Lekok ke Desa Jatirejo karena Desa Jatirejo dianggap lebih tepat sesuai dengan tujuan program ini. Desa Jatirejo memiliki potensi yang lebih besar karena sebagian besar masyarakat Desa Jatirejo bermatapencaharian sebagai nelayan dan pedagang ikan sedangkan mata pencaharian masyarakat Desa Tambak Lekok sebagai petani tambak hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan.
Studi Pustaka
Selain dilakukan observasi, dilakukan juga studi pustaka. Menurut Hardjito (2006), kitosan memiliki gugus aktif yang dapat berikatan dengan mikroba secara agresif maka kitosan juga mampu menghambat pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, kitosan dapat digunakan sebagai pengawet pada produk perikanan. Ada beberapa cara pengolahan kulit udang menjadi kitosan yang diperoleh dari artikel internet, beberapa buku, dan informasi dari dosen IPB. Dari berbagai sumber tersebut diperoleh cara pembuatan kitosan yang bervariasi dengan prinsip pembuatan yang sama yaitu tahap demineralisasi, deproteinasi dan deasetilasi. Ketiga tahap dalam pembuatan kitosan ini dilakukan dengan pemanasan dalam suhu dan waktu yang bervariasi.
Selanjutnya dipilih cara yang paling praktis dan ekonomis serta mudah dilakukan oleh masyarakat Jatirejo yaitu  proses demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi. Pada proses demineralisasi, kulit udang yang ditumbuk dipanaskan dalam larutan HCl 1M selama 1 jam pada suhu 90oC. Setelah tahap demineralisasi dilakukan tahap deproteinasi yang sebelumnya kulit udang dicuci dengan aquades hingga menjadi netral. Pada tahap proteinasi, kulit udang yang sudah dicuci dipanaskan dalam larutan NaOH 3,5 % pada suhu 90 oC selama 1 jam. Tahap terakhir yaitu deasetilasi yang dilakukan dengan cara memanaskan kulit udang yang sudah dicuci dengan aquades dalam larutan NaOH 50 % pada suhu 120 oC selama 1-2 jam. Kitosan yang diperoleh dikeringkan dan disimpan dalam wadah kedap udara. Untuk penggunaan kitosan pada pengawetan ikan adalah merendam ikan dalam larutan kitosan 1,5 % selama 10 menit. Larutan kitosan ini dapat digunakan berkali-kali sampai habis. Inilah yang membedakan antara kitosan dengan formalin.

Pembuatan Sampel
Pembuatan sampel merupakan tindak lanjut dari studi pustaka yang bertujuan membuat strategi yang tepat untuk menjelaskan cara pembuatan kitosan sehingga diharapkan masyarakat bisa memahami dengan mudah. Pembuatan sampel ini dilakukan pada tanggal 23, 31 Maret, dan 5-6 April 2007 di laboratorium kimia FMIPA UM. Selain membuat sampel kitosan, juga dilakukan perbandingan antara ikan tanpa perlakuan dengan ikan yang diawetkan dengan kitosan yang telah dibuat. Hasil yang diperoleh ikan yang telah direndam terlihat lebih segar dibandingkan dengan ikan tanpa perlakuan. Ikan tanpa perlakuan lebih cepat membusuk dan terlihat beberapa lalat yang menghinggapi daripada ikan yang telah diawetkan dengan kitosan. Berdasarkan studi pustaka dan kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa kitosan dapat menjadi alternatif pengganti formalin dengan daya simpan sekitar 3 hari untuk ikan basah. Sampel yang dibuat akan dibagikan kepada masyarakat pada saat sosialisasi akan tetapi sampel yang diperoleh hanya dalam jumlah sedikit sehingga dilakukan pemesanan kitosan kepada dosen IPB dalam jumlah besar.

Pembuatan Video Cara Pembuatan Kitosan
Pada pelaksanaan sosialisasi akan diputarkan video tentang cara pembuatan kitosan agar masyarakat mempunyai gambaran mengenai pembuatan kitosan sehingga lebih mudah dalam menjelaskan cara pembuatan kitosan. Oleh karena itu, sebelum sosialisasi dilaksanakan perlu dibuat video cara pembuatan kitosan yang dilakukan pada tanggal 5 April 2007 di laboratorium kimia FMIPA UM. Dalam proses pembuatan video ini cara-cara membuat kitosan dari kulit udang dilakukan secara rinci dan bertahap. Hasil yang diperoleh adalah sebuah video cara pembuatan kitosan yang disimpan dalam bentuk CD.

Pelaksanaan Sosialisasi
Pelaksanaan sosialisasi dilakukan dua kali selama dua minggu dengan dua tahap yakni tahap pertama sosialisasi kitosan dan cara pembuatan kitosan dari kulit udang, tahap yang kedua adalah cara penggunaan kitosan sebagai pengawet ikan. Pelaksanaan pertama dilakukan pada tanggal 14 April 2007 pukul 19.00 WIB. Pada sosialisasi ini dilaksanakan secara dua tahap, tetapi lebih menekankan pada tahap sosialisasi kitosan dan teknik pembuatan kulit udang menjadi kitosan kepada masyarakat Jatirejo.
Masyarakat Jatirejo belum mengetahui sama sekali tentang kitosan, sehingga perlu dilakukan pengenalan kitosan  terlebih dahulu. Acara diawali dengan pengenalan kitosan dan perbedaan pengaruh yang ditimbulkan oleh kitosan dan formalin. Acara dilanjutkan dengan pemutaran video cara pembuatan kitosan dari kulit udang yang sebelumnya telah dibuat di laboratorium. Seluruh warga dan perangkat desa yang hadir memperhatikan dengan sungguh-sungguh video yang diputar.
Setelah pemutaran video, penjelasan cara pembuatan kitosan disampaikan oleh mahasiswa sebagai pemateri. Penjelasan tersebut mendapat respon positif dari warga dengan pertanyaan yang mereka ajukan secara antusias. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sangat tertarik dengan pemanfaatan kulit udang menjadi kitosan ini. Cara pembuatan kitosan dilakukan dengan metode demonstrasi dan meminta beberapa orang dari masyarakat sebagai perwakilan untuk melihat lebih dekat cara pembuatan kitosan. Acara diakhiri dengan pembagian konsumsi dan pembagian kitosan. Kitosan dibagikan agar masyarakat dapat mencoba menggunakan kitosan pada pengawetan ikan. Hasil yang diperoleh dari sosialisasi pertama ini adalah masyarakat menyambut baik dan sangat antusias yang ditunjukkan dengan banyaknya warga yang bertanya.
Pelaksanaan kedua dilakukan pada tanggal 20 April 2007. Pada pelaksanaan ini menekankan pada tahap cara penggunaan kitosan pada ikan. Warga yang mengikuti sosialisasi pada tanggal 14 April 2007 ingin agar lebih dijelaskan tentang cara penggunaan kitosan dengan berbagai perlakuan, khususnya takaran yang tepat antara kitosan dan air. Sebelum acara selesai, ada tanggapan tentang kegiatan ini dari perwakilan dari PPI (Pegawai Pelelangan Ikan) yang merupakan wadah organisasi para nelayan dan pedagang ikan di daerah sana.
Setelah acara selesai, dilakukan tindak lanjut seluruh kegiatan melalui kerjasama dengan perwakilan PPI yang disaksikan oleh Kepala Desa Jatirejo. Pembahasan tersebut menghasilkan kesepakatan bahwa PPI akan melakukan uji pengawetan ikan dengan kitosan yang telah diberikan  panitia. Jika penggunaan kitosan pada pengawetan ikan dianggap lebih efektif dan ekonomis maka mereka akan melakukan tindak lanjut yaitu segera bekerjasama dengan pemerintah daerah dan Dinas Perikanan setempat untuk membuat kitosan sendiri dalam jumlah besar. Selain itu, masyarakat meminta panitia untuk membantu dalam penyediaan kitosan dan membantu memberitahukan kepada pemerintah bahwa nelayan dan pedagang ikan di Desa Jatirejo Kecamatan Lekok Pasuruan sangat membutuhkan solusi dari pemerintah akibat masalah formalin sehingga mereka meminta adanya tindak lanjut kegiatan ini.

Pendampingan
Berdasarkan kegiatan sosialisasi I dan II maka dilakukan kegiatan pendampingan yang bertujuan untuk membantu masyarakat dalam membuat dan menggunakan kitosan pada pengawetan ikan. Kegiatan pendampingan dilakukan dua minggu setelah acara sosialisasi tepatnya pada tanggal 4 Mei 2007 di Balai Desa Jatirejo. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam pembuatan dan penggunaan kitosan agar mereka tidak mengalami kesulitan.
Kegiatan pendampingan perlu dilakukan karena masyarakat membutuhkan praktek langsung. Pada kegiatan pendampingan ini kami berfungsi sebagai fasilitator dengan membantu warga yang mengalami kesulitan dalam melakukan praktek. Pelaksanaannya hampir sama dengan kegiatan sosialisasi sebelumnya, hanya saja pada kegiatan ini warga yang lebih berperan. Selain itu, kami bekerja sama dengan PPI untuk mengontrol kegiatan warga dalam pembuatan dan penggunaan kitosan.
Berdasarkan serangkaian acara tersebut menunjukkan bahwa warga tertarik dengan acara sosialisasi kitosan dan mereka merasa sangat membutuhkan adanya pengganti formalin yang dapat meningkatkan tingkat kehidupan ekonomi mereka. Masyarakat Jatirejo juga meminta ada pihak yang bersedia menyuplai kitosan yang sudah jadi dalam bentuk larutan sehingga nelayan dan pedagang ikan bisa langsung menggunakannya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat untuk saat ini merasa kesulitan untuk membuat kitosan dari kulit udang karena bahan yang digunakan berupa bahan kimia tidak semua orang awam mengetahui dan waktu yang diperlukan untuk membuat kitosan telah habis digunakan untuk rutinitas pergi ke laut dan berjualan ikan.

PEMBAHASAN
Program ini sangat bermanfaat untuk mengurangi keresahan masyarakat akibat kasus penyalahgunaan formalin yang dilakukan oleh para pengusaha kecil. Manfaat yang dapat diperoleh dari dari progam ini adalah supaya masyarakat sasaran mengetahui manfaat kitosan sebagai bahan pengawet yang lebih aman dan bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan memiliki ketrampilan mengembangkan IPTEK yaitu memanfaatkan limbah kulit udang menjadi kitosan sebagai pengawet pada beberapa produk perikanan dengan teknik sederhana. Jika usaha ini diproduksi dan dikembangkan sebagai pengawet ikan dapat menjadi penghasilan sebagai komoditi utama daerah atau nasional di bidang perikanan, serta mengurangi pengangguran di Indonesia.
Pemanfaatan limbah kulit udang menjadi kitosan yang merupakan bahan pengawet ikan juga dapat memperbaiki kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pada pengawetan ikan, daya simpan ikan untuk ikan kering adalah tiga bulan sedangkan untuk ikan basah daya simpannya selama tiga hari dengan kadar es yang relatif sedikit dibandingkan tanpa menggunakan kitosan. Atas dasar itulah kualitas produk hasil perikanan di Indonesia menjadi semakin baik. Selain itu, ikan yang diawetkan dengan kitosan tampak lebih segar daripada ikan tanpa kitosan. Ikan yang tidak diawetkan dengan kitosan dihinggapi lalat sehingga terbebas dari penularan berbagi macam penyakit yang dibawa lalat.
Ikan yang sudah diawetkan dengan kitosan kesehatannya lebih terjamin karena kitosan tidak mengandung zat karsinogenik (penyebab kanker) sehingga makanan lebih aman dikonsumsi. Selain itu, kitosan lebih efektif menghambat pertumbuhan jamur/bakteri, dan dapat menyerap kolestrol dan lemak sehingga mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan stroke.
Dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini maka dapat dinyatakan bahwa program ini terealisasi. Hal ini ditunjukkan dari hasil pelaksanaan program diantaranya:
1.      Masyarakat Jatirejo telah mengetahui adanya kitosan sebagai alternatif pengganti formalin.
2.      Masyarakat sasaran termotivasi untuk menghindari formalin dan bersedia menggunakan kitosan. Hal ini dibuktikan dengan keantusiaan warga pada pelaksanaan sosialisasi. Selain itu, sebagai tindak lanjut dari program ini warga menginginkan agar ada pihak yang menyuplai kitosan dalam bentuk larutan. Sehingga dilakukan kegiatan pendampingan dan kerja sama dengan PPI dan pihak-pihak yang terkait. Sampai saat ini masih dipikirkan alternatif untuk menyediakan kitosan dalam bentuk larutan untuk masyarakat.
3.      Dari hasil pendampingan, masyarakat dapat mengolah kulit udang menjadi kitosan dengan proses demineralisasi, deproteinasi, dan deasetilasi.
4.      Masyarakat juga dapat menggunakan kitosan pada pengawetan ikan.
Dampak program ini untuk masa mendatang berdasarkan hasil yang kami peroleh dari observasi dan pelaksanaan program ini adalah memberi peluang usaha terhadap masyarakat yang ingin memproduksi kitosan dalam bentuk larutan  dengan jumlah besar. Untuk masa mendatang, maka akan mengurangi pengangguran di Indonesia sehingga akan menambah pendapatan per kapita negara Indonesia. Jika kitosan diproduksi dan dikembangkan sebagai pengawet ikan akan mengurangi keresahan masyarakat indonesia terhadap penggunaan formalin sebagai pengawet khususnya pada ikan serta memenuhi keinginan para nelayan dan pedagang ikan di berbagai wilayah Indonesia untuk mengganti formalin dengan pengawet lain yang lebih aman dan ekonomis.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan:
1.      Mengenalkan kitosan sebagai bahan pengawet kepada nelayan dilakukan dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan demonstrasi.
2.      Memotivasi para nelayan agar menghindari penggunaan formalin dengan memberikan penjelasan mengenai manfaat atau kelebihan kitosan sebagai pengawet pada produk ikan yang juga baik untuk kesehatan.
3.      Kitosan dapat dibuat dari kulit udang dengan proses pencucian, demineralisasi, deproteinasi, dan demineralisasi. Pada proses demineralisasi, kulit udang yang ditumbuk dipanaskan dalam larutan HCl 1M selama 1 jam pada suhu 90oC. Setelah tahap demineralisasi, dilakukan tahap deproteinasi yang sebelumya kulit udang dicuci dengan aquades hingga menjadi netral. Pada tahap proteinasi, kulit udang yang sudah dicuci dipanaskan dalam larutan NaOH   3,5 % pada suhu 90 oC selama 1 jam. Tahap terakhir yaitu deasetilasi yang dilakukan dengan cara memanaskan kulit udang yang sudah dicuci dengan aquades dalam larutan NaOH 50 % pada suhu 120 derajat selama 1 jam.
4.      Sedangkan untuk menggunakan kitosan untuk mengawetkan ikan adalah merendam ikan dalam larutan kitosan 1,5 % selama 10 menit. Larutan kitosan ini dapat digunakan berkali-kali sampai habis.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.(2006). ’Industri Kitin: Dari Limbah Menjadi Bernilai Tambah’, (online), http://www.dkp.go.id/content.php?c=2779, diakses 12 September 2006.
Hardjito, Linawati. (2006). ’Hore! Ditemukan Pengganti Formalin
Mulai Bawang Putih, Chitosan, sampai Asap Cair’, http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=10719, diakses tanggal 17 Maret 2007.

Dunia Komputer
Blog Dunia Komputer Updated at: July 19, 2010